Yuk
you're reading...
Cerpenku

MENANTANG GELOMBANG

Karya: Sunarno

Pekerjaan maring menjadi salah satu pekerjaan yang dijalani sebagian kecil masyarakat pantai Juwana. Kalau kamu melakukan perjalanan dari Semarang menuju ke Surabaya, pada kilometer sembilan puluhan atau sekitar dua setengah jam naik bus maka sampailah di Kota Kecamatan Juwana. Kota kecil Juwana dikenal sebagai kota yang memiliki berbagai sentra sumber kehidupan bagi masyarakatnya. Berbagai industri tumbuh subur menghidupi rakyat. Misalnya industri kuningan, perak, kayu, dan batik.
Di bidang pertanian sebagian wilayah saja masyarakat menekuni sebagai petani padi yang hanya mengandalkan sawah tadah hujan. Mereka mendapatkan panen padi hanya setahun sekali. Karena itu semua sawah di sebelah utara pedesaan sudah diubah fungsinya menjadi tambak. Tambak lebih menguntungkan menurut pendapat mereka. Selain ada yang menjadi petani tambak, masyarakat Juwana ada yang menekuni pekerjaan sebagai nelayan. Dari nelayan kelas besar yang memiliki puluhan kapal ikan besar sampai nelayan kecil yang hanya berbekal jukung (perahu) kecil dengan jaring kecil. Sudah pasti pendapatan mereka kecil karena yang dapat ia tangkap hanya ikan kecil.
Misalnya si Slamet, anak seorang janda miskin yang tinggal di rumah gubug di sudut utara Desa Bakaran. Anak muda ini rajin bekerja. Bersama Ngarpah tetangganya setiap fajar menyingsing meninggalkan rumah gubugnya menuju Kali Godang. Kali Godang adalah sungai kecil anak Sungai Juwana yang dikenal juga Sungai Silugangga. Entah dari mana nama itu sehingga mirip dengan sungai suci di India yaitu Sungai Gangga. Masyarakat tidak ada yang tahu asal muasalnya.
Di Kali Godang itulah Slamet dan Ngarpah selalu menambatkan jukungnya. Setiba di Kali Godang mereka menata peralatan dan perbekalan di masing-masing jukungnya. Jaring sederhana ditempatkan di bagian depan jukung. Sejumlah potongan bambu sepanjang satu setengah meter ditata di bagian tengah. Bambu ini digunakan untuk memasang jaring di pantai. Tidak lupa mereka juga membawa layar yang terbuat dari bekas kantong terigu. Layar ini untuk menggerakkan jukung dengan bantuan angin. Sedangkan bekal sebungkus nasi dan sebotol air minum ditaruh di bagian belakang dekat ia duduk mengemudikan jukung.
Dua jukung kecil bergerak menuju Sungai Silugangga. Slamet dan Ngarpah dengan sabar dan tenang mendayung jukung dengan welah kayu (dayung). Sesampai di Sungai Silugangga mereka mereka memasang layar. Sayup-sayup angin darat mendorong jukung ke muara. Mereka melewati Pulau Seprapat yang sudah tidak seperti pulau lagi. Pulau ini berada di tepi Sungai Silugangga karena endapan menjadikan muara seakin ke utara. Untuk mengisi waktu perjalanan menuju muara yang jaraknya sekitar lima kilometer, Slamet melinting tembakau dengan ditaburi sedikit cengkeh. Disulut ujungnya dan dihisapnya untuk menghangatkan tubuh. Udara fajar di sungai itu sejuk sekali. Semburat warna kuning emas di langit timur mulai memutih. Pertanda pagi telah menyambut.
Pagi itu awan di langit timur bergulung-gulung agak tebal. Berbeda dengan hari sebelumnya. Awan berbentuk sisik memenuhi langit. Awan berbentuk sisik biasanya sebagai tanda hari yang cerah. Bila awan tampak bergulung-gulung pada pagi hari sebagai tanda akan terjadi hujan.
Tibalah Slamet dan Ngarpah di sebelah barat muara sungai. Di sini mereka biasa memasang perangkap ikan. Pantai yang landai dan berlumpur. Mereka segera menurunkan layar agar jukung berhenti. Di tempat yang agak berjauhan meraka mulai menancapkan potongan bambu dan memasang jaring. Jaring dipasang berbentuk setengah lingkaran saat air pasang naik. Ketika air laut terjadi pasang surut maka ikan terjebak di dalam jaring. Itulah yang didapat Slamet dan Ngarpah.
Siang itu cuaca kurang baik. Mendung tebal menggantung di langit. Angin laut bertiup kencang. Slamet mulai mengambil ikan yang nyangkut di jaring. Beberapa ekor ikan dia kumpulkan di jukung. Angin semakin kencang. Ombak semakin besar. Mengombang-ambingkan jukung Slamet beserta isinya. Sesekali petir menyambar-nyambar di mendung hitam.
“Ayo, segera pulang!” teriak Ngarpah kepada Slamet setelah mengamati cuaca yang semakin tidak bersahabat.
“Ya, tinggal sedikit.” jawab Slamet sambil menaikkan jaring ke jukung.
Belum banyak ikan yang mereka dapatkan. Tetapi mereka harus segera pulang. Ombak besar tidak memungkinkan untuk melanjutkan mencari ikan. Tiba-tiba ombak setingi dua meter mengayun jukung Slamet dengan keras. Slamet terkejut. Jukung hampir terguling.
“Hati-hati Met! Ombak semakin besar.” teriak Ngarpah memperingatkan.
Slamet tidak menyahut. Dengan terburu-buru ia masih sibuk memberesi jaring. Dalam hati dia menggerutu mengapa ombak buru-buru datang. Mengapa hujan turun. Mengapa angin terlalu kencang. Mengapa pula petir menyampar-nyambar. Akhirnya selesai pula ia menaikkan jaring ke jukung. Ketika ia mulai memasang layar, jukung Slamet diayun ombak besar. Jukung kecil itu hampir terbalik. Sebagian muatannya sudah terjatuh ke laut.
“Ombak kurang ajar.” gerutu Slamet dalam hati. Tapi kemudian dengan spontan ia berteriak.
“Wahai ombak …. Masih terlalu kecil. Mana yang lebih besar? Datanglah. Slamet tidak takut!”
Karena jengkel Slamet seolah menantang ombak. Di jukung yang lain Ngarpah tertawa geli melihat kelakuan Slamet. Namun tawa itu berhenti seketika saat Ngarpah melihat ombak yang dua kali lebih tinggi dari sebelumnya.
“Awas Met. Ombaaak besaaaaar!” Ngarpah memperingatkan lagi.
Baru tertutup mulut Ngarpah, ombak besar itu sudah menghempaskan jukung mereka. Jukung Ngarpah setengahnya berisi air laut. Isinya hilang dalam sekejap.
Sementara itu Slamet yang berusaha memasang layar kepalanya terhantam tiang layar ketika dihempas ombak. Slamet pingsan, tercebur ke laut. Jukungnya terbalik, dan sebentar-sebantar hilang dari permukaan air laut.
“Slameeet …. Slameeet …. Slameeet!” teriak Ngarpah. Sambil menguras air yang memenuhi jukungnya, ia berusaha mendekati jukung teman satu-satunya itu. Slamet tidak kelihatan. Jukungnya terbalik. Sebentar-sebantar hilang dari permukaan air laut. Dilihatnya ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Senyap. Hanya ada air. Ombak. Dan jukung yang terbalik.
Tiba-tiba Ngarpah melihat warna hitam rambut menembul ke permukaan air laut. Kira-kira lima belas meter dari jukungnya. Segera ia arahkan jukung ke sana. Benar. Slamet mengambang tidak bergerak. Dalam pikiran Ngarpah terlintas, “Slamet mati.” Nyalinya menjadi kecil. Habis. Ngarpah segera menaikkan Slamet ke jukung. Dadanya ditekan-tekan dengan telapak tangan. Perutnya diangkat. Dan mulut Slamet mengeluarkan air. Diangkat lagi perutnya. Keluar lagi air dari mulut Slamet. Lalu terbatuk-batuk. Tak lama kemudian Slamet sadarkan diri.
Badai berangsur-angsur reda. Slamet meraba kepala bagian kiri yang sakit. Benjol. Bekas terhantam tiang layar. Ngarpah lega melihat temannya, Slamet selamat. Mungkin sesuai dengan namanya. Coba kalau namanya bukan Slamet. Apa yang terjadi? Mungkin temannya itu tidak selamat.
Tanpa banyak berkata-kata Ngarpah berusaha membalikkan jukung Slamet dan mengambil segala peralatan yang masih tampak di permuakaan air laut. Jukung Slamet diikat dan digandengkan dengan jukungnya. Mereka segera pulang. Slamet hanya diam. Membisu seperti orang linglung. Yang ada hanya suara air dan angin. Badai sudah reda. Badai di hati Ngarpah pun telah sirna.
Setiba di kampung, Ngarpah mengantarkan Slamet pulang.
“Mbok, ini anak Mbok tadi hampir mati di terjang ombak.” Ujar Ngarpah kepada Mbok Wariyah. Melihat anaknya yang masih lemah dan tampak linglung itu Mbok Wariyah menangis sejadi-jadinya.
“Sudahlah Mbok, tidak perlu ditangisi. Semua sudah selamat,” Ngarpah menasihati.
“Ya, benar kamu, Ngarpah. Bagaimana tadi kejadianya?” sahut Mbok Wariyah.
Ngarpah menceritakan kejadian naas yang telah menimpanya.
“Memang, kita sebagai manusia tidak boleh sombong. Manusia tidak boleh takabur,” ujar simbok menasihati.
“Benar Mbok, saya tadi baru saja merasakan. Betapa kecilnya saya. Ketika ombak itu datang, saya tidak bisa berbuat apa-apa,” sahut Ngarpah menegaskan.
“Mbok,” tiba-tiba Slamet memanggil simboknya dengan suara yang masih lemah.
“Ada apa, Met?” tanya simbok.
“Boleh saya minta sesuatu, Mbok? Tanya Slamet.
“Kamu minta apa?” tanya simbok penasaran.
“Saya dibuatkan bubur merah, Mbok!” pinta Slamet.
“Untuk keselamatan kita semua, nanti saya buatkan bubur merah. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita harus bisa memetik makna dari bubur merah. Manusia itu mempunyai dua sifat seperti bubur merah. Bubur itu nasi yang direbus hingga hancur, lembek, lemah. Setiap manusia memiliki kelemahan dan kekurangan. Tidak berdaya di bawah kekuasaan Sang Pencipta. Untuk menutupi kekurangan manusia ini maka manusia diberi kekuatan dan keberanian yang dilambangkan dengan warna merah. Tapi kekuatan dan keberanian ini jangan digunakan untuk menyombongkan diri. Apalagi takabur.”
“Iya, Mbok. Tapi, Mbok. Kapan membuatnya bubur merah?” tanya Slamet nyindir simboknya yang tak henti-hentinya menasihati.
Ooo, iyaaa … ya. Lupa aku?!?!?!

Juwana, Nyepi, 26 Maret 2009, 05.00

About sunarno5

Drs. Sunarno Jln. Pucang Peni Raya 7 Semarang Guru SMA Kesatrian 2 HP. 085641055055 telp. 0246730216

Discussion

One Response to “MENANTANG GELOMBANG”

  1. Hiii… Ngeri! Kalau berani, baca ini:
    Misteri Hantu Anak Kecil

    Posted by Ma Sang Ji | September 29, 2011, 2:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.